Mengirim Email Ternyata Bisa Menghasilkan Emisi Beracun !!!

15.04 Dini Ratnadewi 4 Comments


Judul yang cukup provokatif :D, tapi memang benar adanya. Ternyata berkirim surel (surat elektronik / email) menghasilkan jejak karbon alias carbon footprint yang berpengaruh terhadap global warming. Apa itu carbon footprint? Nanti saya jelaskan yah :). Awalnya saya hanya membaca sebuah artikel di salah satu portal berita nasional, karena penasaran akhirnya saya melakukan sedikit "riset" mengenai hal ini.

Carbon footprint atau jejak karbon adalah gas rumah kaca (green house gases) yang dihasilkan dari suatu aktifitas (Wiedmann dan Minx, 2008). Hal ini terkait dengan jumlah gas rumah kaca yang dihasilkan kita dalam kehidupan sehari - hari. Dan salah satunya adalah berkirim email.

Ilustrasi Berkirim Email ( Sumber : mnn.com)
Berkirim email sudah menjadi suatu hal yang lumrah bagi kita, apalagi di era digital seperti sekarang ini. Untuk  pengguna Android misalnya sebelum bisa menikmati segala jenis fitur yang ditawarkan, kita diminta terlebih dahulu untuk membuat sebuah email address (bagi yang belum punya). Belum lagi bagi anda yang gemar berbelanja secara online, sebelum order tentu kita harus terdaftar dulu sebagai member dan tentunya diharuskan memiliki email address. Apalagi bagi kalangan bisnis dan korporasi lainnya, hampir dipastikan setiap hari menggunakan layanan email ini.

Dan..ternyata, setiap email yang terkirim diperkirakan dapat menambah  4 gram CO2 ke atmosfer. Mengirim email sebanyak 65 buah sama dengan mengendarai mobil sejauh setengah mil, sedangkan rata2 orang menerima dan mengirim email sebanyak 125 buah setiap hari. Bisa dibayangkan berapa banyak kontribusi kita terhadap pemanasan global hanya dari berkirim email saja :'(. Karbondioksida (CO2) tersebut dihasilkan dari gas emisi komputer2, router2, serta server2 saat proses pengiriman dan penerimaan email sedang berlangsung. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh McAfee ini, perusahaan yang bergerak dibidang security komputer ini menyebutkan bahwa penerimaan email spam berkontribusi menambah kadar CO2 sebanyak 0,3 gram CO2. Carbon footprint yang dihasilkan secara global dari email spam ini, diperkiran setara dengan 3,1 juta gas rumah kaca yang di hasilkan oleh mobil menggunakan 2 miliar galon bensin. Sebagai gambaran, lihat video di bawah ini :


Dari video di atas, ternyata email dengan menggunakan attachment di dalamnya menghasilkan carbon footprint lebih banyak dibandingkan dengan email teks biasa. Gas rumah kaca yang dihasilkan yakni 50 gram. Banyak kan :(.

Cukup sulit memang untuk meninggalkan kebiasaan berkirim email dan beralih ke surat menyurat konvensional. Mengingat waktu yang dibutuhkan untuk memproses surat secara tradisional cukup lama. Apalagi jika surat atau dokumen tersebut sangat penting dan dibutuhkan segera. Sebagai pengguna aktif layanan email, saya sangat terkejut dengan fakta ini. Bagaimana pun kita pasti membutuhkan pertukaran informasi via email. Karena itu saya hanya bisa memberi saran kepada diri sendiri untuk melakukan upaya lain guna menurunkan emisi gas rumah kaca ini. Misalnya, mengurangi penggunaan lampu yang tidak diperlukan, menggunakan transportasi umum dan menghindari penggunaan bahan2 kimia yang meningkat efek gas rumah kaca.

Ternyata memang benar, selalu ada konsekuensi yang harus kita jalani dibalik pesatnya perkembangan teknologi. Mudah2an kita menjadi semakin bijak dalam menyikapinya..GO GREEN, LOVE OUR EARTH !! :D :*

 Sumber : Dailymail

You Might Also Like

4 komentar:

  1. Ahahaha... go green din (GO GREE, LOVE OUR EARTH !!).. ralat itu..
    terus klo kirim surat menyurat lg.. balik kek dulu lg dong din? Bnyk sampah bkas numpuk..hha
    Jd perahu kertas

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahah iyaa nur kurang N, nnti di edit..thank u

      nah itu dia, jadi serba salah kalo balik ke surat menyurat lagi butuh kertas banyak, kertas dibuat dari kayu otomatis banyak pohon yang ditebang..akhirnya sama aja malah ngerusak lingkungan.. :D

      Hapus
  2. Yupz, Hukum sebab Akibat,,
    Setidaknya kita tahu harus tau cara bijak untung menstabilkannya

    Ayo Go Green

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener, semuanya ada sisi baik buruk..tinggal kita aja yang jaga keseimbangan nya :)

      Hapus