Toleransi Dalam Kehidupan Ber-medsos

16.15 Dini Ratnadewi 2 Comments

Sosial media bukan sesuatu yang 'aneh' bagi masyarakat Indonesia, saya yakin hampir semua orang memiliki akun di media sosial. Baik itu sosmed populer seperti Facebook dan Twitter atau sosmed yang relatif baru seperti Ask.fm dan Path. Namun, pernahkan anda bertanya adakah manfaat sosmed dalam menjaga keberagaman di Indonesia, khususnya menjaga toleransi antar umat beragama ? atau justru sosmed malah menjadi suatu boomerang dan ancaman bagi kehidupan beragama ?

Menurut saya sosmed ini seperti 2 belah mata koin yang berbeda, ada sisi positif serta ada juga negatifnya. Gak bisa dipisahin !!! Seperti kasus yang menghebohkan baru-baru ini. Bagaimana 'the power of sosmed' berbicara, dalam waktu yang singkat sudah terkumpul sejumlah dana fantastis untuk seorang ibu yang wartegnya terkena razia di kota Serang Prov. Banten. Aksi penggalangan dana tersebut di lakukan via Twitter oleh seorang nitizen. Banyak orang berpendapat mengenai kasus ini, bahkan timeline saya di Facebook dan Twitter dipenuhi oleh berbagai pendapat yang dibagikan teman-teman saya. Saya pribadi sempat mencibir satpol PP Serang yang bertindak arogan dalam razia tersebut, lagi puasa koq sempet-sempetnya main kasar. Saat itu saya berpikir, selama ini saya baik-baik saja dan tidak tergoda jika melihat warung atau tempat makan yang buka di bulan Ramadhan. Itu masalah iman, alhamdullilah iman saya masih cukup tebal apalagi hanya masalah makanan. itu mah keciiiilll. Tapi setelah saya mencoba untuk menganalisa persoalan tersebut, ini bukan hanya masalah iman tetapi masalah untuk saling menghormati.

Aksi pengumpulan dana yang dilakukan via Twitter (dok.solopos.com)
Akhirnya banyak orang yang adu pendapat dan berakhir dengan salah paham, karena apa ? karena mereka menelan bulat-bulat info yang tersebar dimedia. Saya pun demikian, tanpa melihat dari sisi agama saya langsung berpendapat bahwa satpol PP itu tidak manusiawi. Ya, kebanyakan kita digiring untuk berpendapat di bawah kata 'manusiawi'. Peran media sosial pun tak bisa saya anggap enteng, banyak teman-teman bahkan saya sendiri termakan oleh berita dan pendapat yang disebarluaskan via sosmed tersebut. Padahal saya hanya melihat kasus tersebut dari sudut pandang korban, bukan sudut pandang pelaku yang dalam hal ini sedang melaksanakan tugas. Tapi dari kasus ini saya dapat menilai, bahwa masyarakat Indonesia masih memiliki empati dan rasa peduli terhadap sesamanya. Terlepas dari segala rumor yang merebak akhir-akhir ini tentang si ibu, we are still awesome good job Indonesian :)

Lain lagi dengan kasus di bawah ini, speechless deh... *mohon maaf jika content tersebut mengandung kata-kata kasar, TIDAK untuk ditiru.

Status yang melecehkan agama (dok.facebook.com)
Untuk kasus yang ini, jujur saya sedikit takut untuk berpendapat. Terlalu sensitif. Hal pertama yang saya tanyakan ketika melihat gambar tesebut adalah 'anak ini pernah belajar PPKN gak sih ?' Iya anda gak salah baca PPKN, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Dulu saat saya masih berstatus pelajar baik di tingkat dasar maupun lanjutan, pasti matapelajaran PPKN ini membahas tentang toleransi dan tenggang rasa. Tidak kah rasa toleransi dan tenggang rasa itu lahir dalam hati anda, hai kau adik kecil ? Dari pelajaran itu kita bisa belajar bagaimana menghormati dan menghargai orang lain, bahkan dalam hal keyakinan. Toh, tidak ada agama yang menyerukan untuk berbuat jahat kepada pengikutnya. Selain itu, penggunaan sosmed jadi melenceng jauh. Sosmed yang awalnya di ciptakan sebagai media alternatif untuk bersosialisasi, malah di jadikan sebagai ajang adu domba dan menjelek-jelekan agama lain. Dan lebih parahnya lagi banyak orang yang dengan mudahnya terprovokasi dengan status-status semacam di atas. Come on, what's going on with you peoples ? berabad-abad kita hidup berdampingan dalam perbedaan dan keberagaman, sekarang koq malah gampang tersulut emosi. Bahkan dalam keluarga besar saya pun ada anggota keluarga yang berbeda kayakinan dan etnis, and we are still respect each other. Gak pernah tuh kita mengunggulkan salah satu agama atau pun suku. Kedudukan kita sama rata dimata hukum negara mbak sist, mas bro. Bahkan dalam agama pun hanya amalan baik buruk yang membedakan orang. jadi stop lah menghina atau melecehkan keyakinan orang lain di ruang publik apalagi di sosmed, gak etis banget !!!

Kembali pada pokok permasalahan, sosmed bisa menjadi sarana untuk menjaga kerukunan antar umat beragama tapi bisa juga digunakan sebagai alat pengadu domba. Bijaksana lah dalam menggunakan sosmed, lately banyak sekali orang yang salah kaprah dengan ungkapan 'kebebasan berpendapat.' Hal itu banyak terjadi di sosmed, ya contohnya seperti kasus di atas. Alih-alih berpendapat malah terjerat hukum pidana, karena di anggap melecehkan suatu agama. Jadi jawaban untuk pertanyaan saya di awal adalah, sosmed bisa menjadi fasilitas untuk menjalin kerukunan antar agama tetapi bisa juga di jadikan sebagai medan adu domba dan provokasi. Tergantung niatan si pengguna sosmed tersebut. Mudah-mudahan masih banyak orang diluar sana yang sadar akan pentingnya menjaga kerukunan dan keberagaman. Ini bukan menyangkut kerukunan antar golongan atau agama saja loh, tapi kerukunan bangsa juga. Tanyakan lah pada diri kita masing-masing, 'sudahkan saya bertoleransi dalam kehidupan ber-sosmed ?'

"artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog yang diselenggarakan oleh ICRS dan Sebangsa"

You Might Also Like

2 komentar:

  1. Halo mba dini, salam kenal. Memang gak banyak orang-orang di negara ini yg pandai dan bijak dalam mengelola socmed, hanya beberapa persen juga orang yang mempunyai personal branding disocmed yg cerdas.
    Tapi mungkin ini semua berawal dari budaya orang kita yang seneng gosipin orang lain, yang seneng pointing out kesalahan atau kekurangan orang lain, dan ngelakuin hal tersebut hanya untuk kepuasan diri. Lalu jaman sekarang muncul social media platform di mana kita bisa being totally anonymous commenting on someone's video or photo, yang tentunya makin menggelitik kegemaran akan ngejelekin orang/SARA.
    Sebagai langkah kecilnya,yuk kita sama-sama berbagi pengalaman ke orang-orang disekitar kita untuk menciptakan branding yang smart di social media juga lebih bijak menggunakannya :-)

    #KeepWriting ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mbak, semua nya memang harus dari dri sndri dulu..pelan2 mengingatkan orang2 soal good branding di dunia maya, meskipun belum tentu brtemu di dunia nyata saya rasa tetap perlu untuk tetap menjaga sopan santun di dunia maya :)

      thanks for comment mbak

      Hapus